Opini  

Muktamar NU ke-35: Jangan Biarkan Amanah Ulama Dibeli.

Sudarsono Rahman. Ketua PW IPNU Jatim 1988 - 1992. PJ Ketua DPP BariKade Gus Dur.
Sertifikatin 1

INFOJAWATIMUR.COM –Muktamar NU ke-35 di Tambakberas Jombang seharusnya menjadi momentum kembalinya NU kepada marwah para muassis : “Ulama Memimpin, Umat Bermusyawarah, dan Kepentingan Bangsa ditempatkan di atas kepentingan Kekuasaan”. Namun menjelang muktamar, muncul kegelisahan tentang dugaan politik uang, praktik down payment (DP) atau “mahar”, serta Intervensi pihak-pihak luar yang memiliki kepentingan terhadap arah NU.

Kita tidak sedang menghakimi siapa pun, tetapi ketika dari berbagai Cabang dan Wilayah mulai terdengar seruan “Tolak Politik Uang, Tolak DP, Tolak Intervensi Kekuasaan dan Intervensi Partai Politik”, berarti ada persoalan yang harus dijawab secara terbuka.

Yang lebih penting, muncul kesadaran kolektif dari bawah, sudah ada yang menyerukan : “Jangan Pilih Orang yang Membayar DP”, ada pula ungkapan satiris, “Terima Uangnya, Jangan Pilih Orangnya”, bahkan ada seruan agar uang mahar dikembalikan karena memilih Pemimpin NU bukan Transaksi Jual Beli Suara.

Ini bukan sekadar perang slogan, ini adalah tanda bahwa warga NU masih memiliki nurani.

Muktamar NU bukan pasar tempat suara ditukar dengan uang, Rais Aam bukan Jabatan yang layak diperebutkan dengan Nahar, Ketua Umum PBNU bukan posisi yang boleh dibeli dengan Transaksi Politik, keduanya adalah amanah yang menyangkut masa depan Jam’iyah dan Umat.

Karena itu, jika benar ada uang yang beredar untuk memengaruhi pilihan muktamirin, pertanyaan kita sederhana : untuk apa uang itu diberikan dan dari mana sumbernya ?, jika benar ada pihak luar yang melakukan Intervensi, pertanyaan berikutnya juga sederhana : apa kepentingan mereka terhadap NU ?.

NU terlalu besar untuk dijadikan kendaraan kepentingan kekuasaan siapa pun,
Muktamar harus dikembalikan menjadi Ruang Ta’aruf, Musyawarah dan Pertimbangan Moral, Para muktamirin harus diberi kebebasan memilih tanpa tekanan, tanpa transaksi, tanpa janji jabatan, dan tanpa intervensi.

Jangan sampai kita menyaksikan ironi : Muktamar yang dilahirkan dari tradisi pesantren justru kehilangan Ruh pesantren karena Politik Transaksional.

Tambakberas bukan sekadar tempat Pelaksanaan Muktamar, Ia adalah tanah yang memiliki sejarah panjang perjuangan dan keilmuan para ulama. Karena itu, jangan nodai tanah muassis dengan praktik yang bertentangan dengan Akhlak Perjuangan mereka.

Kini saatnya Cabang, Wilayah, Ulama, Pesantren dan seluruh warga NU bersuara lebih tegas :

Tolak Politik Uang.
Tolak Mahar dan DP.
Tolak Intervensi Kekuasaan.
Tolak Intervensi Partai Politik.
Jangan memilih karena uang.
Jangan menjual Amanah Umat.

Muktamar NU ke-35 harus membuktikan bahwa suara Muktamirin bukan komoditas dan NU bukan milik kekuasaan.
Kalau ada yang memberi Uang, jangan biarkan uang itu membeli hati dan Suara, sebab harga diri NU jauh lebih mahal daripada berapa pun nilai mahar yang ditawarkan.

“Jaga Muktamar, Jaga NU, Jaga Amanah Para Muassis”.

Sudarsono Rahman.
Ketua PW IPNU Jatim 1988 – 1992.
PJ Ketua DPP BariKade Gus Dur.

Home Trending Kontak