[OPINI] Bagaimana Menciptakan Ekosistem Pemenang Dalam Pemasaran Ekspor

0
6

INFOJAWATIMUR.com – [OPINI] Selamat pagi rekan-rekan produsen yang kreatif dan memiliki kekuatan produksi yang baik di seluruh Indonesia. 3 bulan terakhir ini saya, dengan beberapa lintas stakeholder serta pemerhati pemasaran dan juga pegiat dunia bisnis mikro kecil dan menengah, sedang intens berkumpul dan memadukan ritme perjalanan dunia pemasaran produk berkualitas dari negara kita.

Paling keren dari beberapa notulensi meeting yang berhasil direkap adalah pentingnya ada sebuah Perusahaan aggregator yang KONSISTEN dan KOMPETEN. Berharap dari Perusahaan itu akan menjadi AGENSInya para penjual dan produk hasil komoditas dan kreatifitas di Indonesia untuk tidak hanya mendapatkan PELUANG PASAR, namun juga melengkapi dengan komunikasi yang bagus lintas sectoral pemangku kebijakan, hingga mampu mengurus segala macam kontrak dan transaksinya dengan pembeli diluar negeri.

Tentu harapan agar Perusahaan itu mampu membuat para pelaku usaha industri skala UMKM untuk FOKUS pada PRODUKSI dan KUALITAS serta KEBERLANJUTAN.

Sehingga dengan alur yang sesuai standar calon pembeli, maka Perusahaan aggregator tersebut akan semakin cermat kerjanya mendapatkan potensi-potensi yang ada diseluruh pelosok Indonesia, untuk segera bisa masuk kurasi dan efeisiensi serta terjaga KONSISTENSI Standar Kualitas.

Keberadaan Perusahaan tersebut yang terjaga ekosistemnya dengan seluruh lini perizinan, logistik dan perwakilan perdagangan diluar negeri, tentu akan menjadi SOLUSI bagi para produsen (manufacturing) yang secara otomatis menjadi lebih GIAT nya lagi mereka meningkatkan KUALITAS PRODUKSI.

 

Namun, kawan.

Dari berbagai diskusi yang terjalin selama dua bulan terakhir ini, baik dengan swasta, pemerintah dan pelaku usaha serta pembeli potensial, ternyata Perusahaan ini belum pernah ada di Indonesia.

Lantas apa yang selama ini menghampiri para pelaku usaha di tanah air?

Ternyata yang terjadi berulang-ulang tahun selama ini, adalah perusahan-perusahaan yang belum formal dan terstruktur dan tentu tidak memiliki KODE ETIK serta satu sama lain saling menjatuhkan, dan hanya mencari keuntungan pribadi semata.

Mereka yang menyatakan dirinya agreator yang katanya mampu mensinergikan dengan Lembaga keuangan, asuransi, pemasaran digital, dan logistik, ternyata belum memiliki KODE ETIK yang jelas dalam mendukung perkembangan produk Indonesia secara massif dan berkelanjutan.

Akibatnya tentu saja, saling tidak percaya kemudian menjadi kendala utama dalam transaksional antar kedua negara, yakni negara pembeli dan negara pensuplai produk.

Sebagai misal dalam suatu pengalaman yang diceritakan, Perusahaan ada yang masih dalam taraf coba-coba saja ujarnya. Masing-masing masih terlalu lama penjajagan ekspetasi yang sesuai dengan peluang pasar yang diinginkan dijalani.

Sehingga akibatnya, produsen yang sering dapat buntung dalam pengiriman produk contoh, ke Perusahaan tersebut. Sedangkan Perusahaan tidak ada komunikasi pada produsen bahwa produk contoh kirimannya belum sesuai keinginan, atau bahkan belum TERKIRIM ke calon BUYER!

Begitupun cerita dari pihak pembeli yang sering komplain terhadap produk lanjutan yang terkirim tidak sesuai ekspektasi awal saat produk contoh dikirim. Bahkan yang lebih parah, kiriman-kiriman berikutnya tercampur atau sengaja dicampuri dengan produk pemberat pengiriman. PARAH!

Berkali-kali gagal menjodohkan usaha skala UMKM dengan calon mitra agregator/konsolidator dan/atau investor yang cocok, memiliki konsekwensi yang cukup besar, karena TIDAK ADANYA layanan terintegrasi selama ini. Sehingga kendala dalam Langkah ditengah perjalanan, akan lebih lama menghambat terbayarnya biaya produksi yang ditunggu-tunggu para pemilik barang.

Dan pada akhirnya usaha-usaha personal yang dilakukan satu dua orang dan atau perusahaan , menjadi SIA-SIA yang menghabiskan waktu terbuang.

Sedangkan yang berhasil ditautkan pun tidak bisa berjalan eksisting, karena EKOSISTEM nya tidak dapat dijaga dengan baik oleh kedua belah pihak.

Harus ada yang benar-benar belajar dan akhirnya paham serta langsung PRAKTEK, bagaimana menghadapi UMKM dan bagaimana mempercepat pertumbuhannya agar menjadi  PEMENANG BARU yang mampu produknya meningkat pesat ke luar negeri sehingga mampu pula menciptakan banyak lapangan kerja. Tentu tidak hanya segelintir orang saja yang berpikir tentang ini, harus ada keberpihakan pikiran, energi, dan modal juga untuk misi ini.

Pasar ekspor memang cukup besar ceruknya, namun jika banyak belum siapnya, untuk urusan transaksi lintas negara ini. Maka yang terjadi ya hanya sekedar hasil kecil dari misi-misi dagang sekilas, akademi dan pelatihan yang dimiliki sepihak, seremoni yang dibungkus dalam kenikmatan tayangan berita, keuntungan yang tidak tercatat, serta perlahan-lahan ketidakpercayaan pembeli dan penjual akan semakin melebar jaraknya.

Lantas yang terjadi adalah makin meningkatnya perusahan Perusahaan undername yang makin meroket dari hasil mencomot produksi asal dengan mengganti label dan entitas merek aslinya.

Lantas yang terjadi adalah hasil eksport kita akan begitu begitu saja, tanpa ada yang mau focus pada integrasi lintas sectoral dan menjadi Perusahaan Rintisan yang mampu menKOLABORASIKAN : Perizinan, Kurasi, Digitalisasi, Komunikasi, Logistik, Tata Niaga Perdagangan, Tata Kelola Administrasi Transaksi, Pembiayaan, Pemasaran, dan Infrastruktur.

Semoga Amanah pada Perusahaan tersebut dapat dikelola segera, sehingga diskusi-diskusi dan masukan yang berarti dari berbagai lintas sectoral itu, menjadi wujud nyata terciptanya dukungan yang benar dan sesuai untuk tagline BELA BELI PRODUK INDONESIA.

Tulisan Opini  ini, tidak hanya untuk seluruh pemangku kebijakan di Indonesia, namun kepada seluruh organisasi yang terkait diatas, agar kita mulai sekarang bergandengan tangan dengan ikhlas dan tuntas dalam mengAKSELERASIKAN tugas ekspor produk Indonesia ini.

 

Penulis Opini : ARI PRABOWO [Pegiat UMKM | Mentor-Trainer-Owner Business-Konsultan-Penyelia Halal-Ekspor HUB]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here