Di dataran tinggi Karo, Sumatera Utara, rumah adat Siwaluh Jabu masih berdiri sebagai jejak penting perjalanan budaya masyarakat setempat. Salah satu kawasan yang dikenal sebagai tempat pelestariannya adalah Desa Lingga, desa budaya yang menyimpan rumah-rumah adat Karo berusia ratusan tahun.
Keberadaan bangunan tersebut kini menghadapi tantangan. Sejumlah peneliti dan pemerhati budaya menyebut jumlah rumah adat Karo di masa lalu lebih banyak dibandingkan yang tersisa sekarang. Sebagian bangunan rusak, ditinggalkan penghuninya, atau menghilang karena keterbatasan pemeliharaan.
Rumah adat Karo di desa-desa lain juga mengalami penyusutan. Beberapa di antaranya dipindahkan ke lokasi lain untuk kepentingan preservasi dan edukasi publik. Kondisi itu memperlihatkan bahwa kelangsungan Siwaluh Jabu berada di tengah tekanan perubahan zaman dan modernisasi.
Rumah untuk delapan keluarga
Dalam bahasa Karo, Siwaluh Jabu berarti delapan keluarga. Nama tersebut menggambarkan fungsi utama bangunan sebagai tempat tinggal bersama bagi delapan keluarga yang memiliki hubungan kekerabatan.
Berbeda dari rumah modern yang umumnya dirancang untuk satu keluarga inti, Siwaluh Jabu mencerminkan pola kehidupan komunal. Rumah ini menjadi ruang yang menekankan kebersamaan, hubungan kekerabatan, dan kerja sama dalam kehidupan sehari-hari.
Bangunan itu berdiri di atas panggung kayu dengan atap besar yang menjulang. Konstruksinya dibuat tanpa paku. Masyarakat Karo memanfaatkan sistem pasak dan ikatan yang dirancang untuk menjaga kekuatan bangunan, sehingga rumah tersebut mampu bertahan selama ratusan tahun.
Tiga lapisan simbolik
Siwaluh Jabu tidak hanya dapat dipahami sebagai bangunan dengan teknik konstruksi tradisional. Bentuknya juga berkaitan dengan pandangan hidup masyarakat Karo mengenai hubungan manusia, alam, dan dunia spiritual.
Bagi masyarakat tradisional Karo, rumah bukan sekadar tempat berlindung. Bangunan tersebut dipandang sebagai gambaran alam semesta dalam skala yang lebih kecil. Karena itu, ruang dan bentuk rumah memiliki makna simbolik yang melampaui fungsi praktisnya.
Secara simbolis, Siwaluh Jabu terbagi menjadi tiga bagian utama. Bagian bawah merepresentasikan dunia bawah yang berkaitan dengan kehidupan profan dan berbagai kegiatan penunjang sehari-hari. Area ini digunakan untuk menyimpan kayu bakar, peralatan bertani, serta kandang ternak.
Bagian tengah menjadi ruang kehidupan manusia. Sementara itu, atap yang tinggi melambangkan dunia atas, yang berkaitan dengan kekuatan spiritual dan leluhur.
Pembagian tersebut menunjukkan bahwa arsitektur tradisional Karo disusun melalui perpaduan antara kebutuhan teknis dan sistem nilai. Tata ruangnya tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan keyakinan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Pola matematika dalam arsitektur
Rumah adat Karo juga menarik dikaji melalui perspektif etnomatematika, yakni kajian mengenai hubungan antara matematika dan budaya. Sejumlah penelitian menunjukkan adanya pola-pola dalam bentuk bangunan yang dapat dianalisis melalui pendekatan tersebut.
Kajian etnomatematika memperluas cara pandang terhadap Siwaluh Jabu. Rumah ini tidak hanya dibahas sebagai warisan arsitektur, simbol gotong royong, sistem kekerabatan, atau identitas masyarakat Karo, tetapi juga sebagai karya yang memuat keteraturan tertentu.
Dengan demikian, Siwaluh Jabu menyimpan beberapa lapisan makna sekaligus: tempat tinggal komunal, hasil pengetahuan konstruksi tradisional, representasi kosmologi, dan objek kajian hubungan matematika dengan kebudayaan.
Di tengah jumlah rumah adat yang semakin terbatas, keberadaan bangunan yang masih bertahan di Tanah Karo menjadi penting untuk dipelajari dan dirawat. Pelestarian melalui pemindahan ke lokasi tertentu, ketika dilakukan untuk preservasi dan edukasi publik, menjadi salah satu cara agar warisan arsitektur tersebut tetap dapat dikenali oleh generasi berikutnya.
Sumber: ANTARA News – Terkini
















