Bisnis  

Kemenko Pangan Mulai Proyek Percontohan Kedelai 25 Hektare di Cariu

Lahan percontohan ditargetkan meluas menjadi 100 hektare pada 2027 untuk memperkuat produksi dan menekan ketergantungan impor.

Sertifikatin 1

Kementerian Koordinator Bidang Pangan memulai proyek percontohan penanaman kedelai seluas 25 hektare di Kecamatan Cariu, Kabupaten Bogor. Program yang diluncurkan pada 3 September 2026 tersebut dirancang untuk membangun model pengembangan kedelai terintegrasi sekaligus mendorong peningkatan produksi dalam negeri.

Kepala Biro Umum dan Hubungan Masyarakat Kemenko Pangan Gunawan mengatakan proyek ini merupakan bagian dari upaya pemerintah mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor. Saat ini, impor masih memenuhi sekitar 95 persen kebutuhan kedelai nasional.

Proyek percontohan itu dijalankan melalui koordinasi Kemenko Pangan dengan Kementerian Pertanian, TNI Angkatan Laut, Pemerintah Kabupaten Bogor, PT Pupuk Indonesia (Persero), serta Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo).

Kesenjangan produksi dan kebutuhan kedelai

Data kementerian menunjukkan produksi kedelai domestik pada 2025 hanya sekitar 79 ribu ton. Pada tahun yang sama, kebutuhan nasional tercatat mencapai 2,72 juta ton. Kebutuhan tersebut diproyeksikan naik dari sekitar 2,79 juta ton pada 2026 menjadi sekitar 3 juta ton pada 2029.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan penguatan produksi dan perbenihan ditempatkan sebagai sasaran utama program di Cariu. Gunawan menjelaskan, proyek itu tidak hanya berorientasi pada hasil panen, tetapi juga diarahkan untuk menyediakan benih kedelai berkualitas yang dapat mendukung perluasan penanaman pada tahun-tahun berikutnya.

Luas lahan percontohan yang kini mencapai 25 hektare diproyeksikan meningkat menjadi 100 hektare pada 2027. Pemerintah berharap pengembangan tersebut dapat menjadi tahap awal pembentukan kawasan kedelai yang terintegrasi dari sisi produksi hingga pemanfaatan hasil panen.

Dukungan budi daya hingga penyerapan hasil

Pelaksanaan program dikoordinasikan melalui Asisten Deputi Peningkatan Daya Saing Produk Tanaman Pangan pada Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian Kemenko Pangan. Dukungan untuk kegiatan budi daya meliputi penyediaan benih unggul, pupuk, pestisida, pompa air, dan traktor.

Pada sisi hilir, Gakoptindo berperan sebagai mitra yang menyerap hasil panen. Kedelai yang dihasilkan dari Cariu akan dimanfaatkan kembali sebagai sumber benih dan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri tahu serta tempe.

Menurut Gunawan, kepastian penyerapan tersebut diharapkan memberi jaminan pasar dan meningkatkan kepastian usaha petani. Dengan demikian, dukungan program tidak berhenti pada proses penanaman, tetapi juga mencakup pemasaran hasil produksi.

Target perluasan di wilayah lain

Kemenko Pangan berharap pola kolaborasi yang diterapkan di Cariu dapat direplikasi di wilayah lain yang memiliki potensi pengembangan kedelai. Pemerintah menilai perluasan model tersebut penting agar produksi nasional meningkat secara bertahap dan kemandirian pangan semakin kuat.

Pada 2026, pemerintah menargetkan pengembangan areal tanam kedelai seluas 50.000 hektare. Namun, paparan Kemenko Pangan pada Juli 2026 mencatat realisasi tanam baru mencapai 2.956 hektare. Sementara itu, produksi hingga Mei 2026 tercatat 7.691 ton dari luas panen 5.048 hektare.

Penguatan produksi juga diarahkan melalui pengembangan sistem perbenihan. Pada akhir 2025, kegiatan penangkaran benih kedelai dilakukan di lahan seluas 1.420 hektare dan menghasilkan 5.680 ton calon benih. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.550 ton merupakan benih bersertifikat.

Sumber: ANTARA News – Bisnis

Home Trending Kontak