Bisnis  

Barantin dan Selandia Baru Perkuat Biosekuriti serta Akses Pasar Komoditas

Kerja sama mencakup penyelarasan persyaratan SPS, pelatihan teknis, sertifikat elektronik, dan karantina pre-border

Badan Karantina Indonesia (Barantin) dan Kementerian Industri Primer Selandia Baru atau Ministry for Primary Industries (MPI) memperkuat kerja sama di bidang biosekuriti dan karantina. Kolaborasi tersebut sekaligus diarahkan untuk memperluas akses pasar komoditas unggulan Indonesia ke Selandia Baru.

Pembahasan dilakukan dalam pertemuan Kepala Barantin Abdul Kadir Karding dengan Direktur Jenderal MPI Ray Smith, Deputi Direktur Jenderal Biosecurity New Zealand Stuart Anderson, serta Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia Phillip Taula. Pertemuan itu berlangsung di tengah upaya kedua negara meningkatkan keamanan lalu lintas komoditas hewan, ikan, tumbuhan, dan produk turunannya.

Karding menyebut Selandia Baru sebagai salah satu mitra strategis Indonesia dalam penguatan sistem biosekuriti dan karantina. Menurut dia, pengalaman serta praktik biosekuriti negara tersebut dapat menjadi acuan bagi Indonesia untuk memperkuat sistem karantina.

Tiga agenda utama kolaborasi

Dalam pertemuan tersebut, Barantin mengusulkan tiga fokus kerja sama. Pertama, penyelarasan persyaratan Sanitary and Phytosanitary (SPS) dan protokol kesehatan untuk pergerakan hewan, produk hewan, ikan, serta tumbuhan.

Kedua, kedua pihak membahas pelatihan teknis bagi pejabat karantina Indonesia. Pelatihan ini terutama mencakup deteksi dini dan pengelolaan laboratorium untuk menangani penyakit strategis, seperti penyakit mulut dan kuku (PMK), lumpy skin disease (LSD), dan bruselosis.

Fokus ketiga ialah penggunaan sertifikat elektronik atau e-certificate serta penerapan tindakan karantina pre-border. Langkah tersebut ditujukan untuk memperkuat pengawasan dan mengurangi risiko sebelum komoditas memasuki wilayah Indonesia.

Karding menilai sistem biosekuriti yang kuat dibutuhkan untuk melindungi sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan kehutanan dari ancaman hama serta penyakit. Sistem itu juga mendukung perdagangan komoditas yang aman dan berkelanjutan.

Dukungan untuk peternakan sapi perah

Penguatan kapasitas biosekuriti juga dikaitkan dengan agenda peningkatan produktivitas susu nasional. Barantin menyebut agenda tersebut mencakup pengembangan peternakan sapi perah dan peningkatan mutu genetik, termasuk rencana impor sapi dari Selandia Baru.

Barantin memastikan lalu lintas sapi dan komoditas hewan lainnya harus memenuhi prinsip biosekuriti. Penerapan karantina berbasis sains dinilai penting untuk mencegah masuk serta menyebarnya penyakit hewan, sekaligus menjaga kesehatan ternak dan keberlanjutan pengembangan sapi perah nasional.

Ray Smith menyampaikan bahwa pertukaran pengetahuan dan pengalaman antara kedua negara dapat mendukung perdagangan yang aman. Kerja sama tersebut juga membantu memastikan komoditas yang diperdagangkan memenuhi persyaratan kesehatan dan keamanan.

“Penguatan biosekuriti merupakan fondasi penting bagi perdagangan yang aman dan berkelanjutan,” kata Smith. Ia menyatakan Selandia Baru menyambut peluang untuk melanjutkan hubungan dengan Barantin melalui pertukaran pengetahuan dan pengalaman.

Peluang ekspor komoditas Indonesia

Selain membahas aspek teknis, Karding berharap hubungan Indonesia dan Selandia Baru dapat membuka akses pasar lebih luas bagi komoditas unggulan dari Indonesia.

Data perdagangan sektor hewan, ikan, dan tumbuhan Barantin menunjukkan nilai ekspor Indonesia ke Selandia Baru pada 2024 mencapai 872 juta dolar AS, setara sekitar Rp15,46 triliun. Pada periode yang sama, impor Indonesia dari Selandia Baru tercatat 1,22 miliar dolar AS atau sekitar Rp21,64 triliun.

Sejumlah komoditas Indonesia dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan di pasar Selandia Baru. Produk tersebut meliputi sarang burung walet, bulu unggas, ikan hias laut dan air tawar, udang vaname, kepiting bakau, serta tuna, tongkol, dan cakalang.

Peluang ekspor juga terbuka untuk produk hortikultura dan kehutanan, antara lain rempah-rempah, mangga, manggis, salak, pisang, kayu, serta produk kayu. Barantin menyatakan siap mengawal pelaksanaan kolaborasi dengan MPI untuk mendukung ketahanan pangan nasional dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di kedua negara.

Sumber: ANTARA News – Bisnis

Home Trending Kontak
Exit mobile version