Bisnis  

BP Batam Wajibkan Data Center Bangun SWRO Mandiri di Kabil dan Nongsa

Kapasitas produksi air hasil desalinasi diproyeksikan mencapai 750 liter per detik pada tahap awal dan 1.000 liter per detik pada tahap berikutnya.

Badan Pengusahaan (BP) Batam memastikan pembangunan pusat data di Batam, Kepulauan Riau, akan disertai instalasi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) secara mandiri. Fasilitas desalinasi air laut itu disiapkan untuk memenuhi kebutuhan operasional industri pusat data, terutama di Kabil dan Nongsa.

Kepala BP Batam sekaligus Wali Kota Batam Amsakar Achmad mengatakan kewajiban pembangunan SWRO berlaku bagi setiap investasi pusat data. Kebijakan tersebut diterapkan karena industri ini membutuhkan air dalam jumlah besar, sementara pemenuhan kebutuhan investasi harus tetap berjalan seiring dengan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.

Menurut Amsakar, investasi dan infrastruktur pendukungnya perlu direncanakan secara bersamaan. Karena itu, pelaku industri yang membutuhkan pasokan air besar didorong memiliki sumber air sendiri melalui teknologi SWRO.

Sepuluh rencana pusat data

BP Batam mencatat terdapat 10 rencana pengembangan pusat data di wilayah tersebut. Dari jumlah itu, satu pusat data telah beroperasi dan menyambut kebijakan pembangunan instalasi SWRO secara mandiri. Pusat data lain yang masih berada dalam rencana pengembangan juga akan mengikuti skema serupa.

Dengan pola tersebut, kebutuhan air pusat data tidak akan mengandalkan suplai air waduk yang diperuntukkan bagi masyarakat Kota Batam. BP Batam menilai langkah itu penting untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan investasi dan ketersediaan air bagi kebutuhan rumah tangga.

Amsakar menjelaskan, pembangunan SWRO di dua kawasan, yakni Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa dan kawasan industri Kabil, diproyeksikan meningkatkan kapasitas produksi air Batam dalam dua hingga tiga tahun mendatang. Pada tahap awal, tambahan kapasitas diperkirakan sekitar 750 liter per detik.

Kapasitas tersebut kemudian ditargetkan meningkat hingga sekitar 1.000 liter per detik pada tahap berikutnya. Peningkatan itu berasal dari pengembangan fasilitas SWRO di kedua kawasan yang menjadi lokasi utama industri pusat data.

Potensi pasokan untuk masyarakat

Selain melayani kebutuhan industri, instalasi SWRO berpotensi membantu memperkuat ketahanan air bersih untuk rumah tangga. Apabila produksi air hasil pengolahan melampaui kebutuhan operasional pusat data, kelebihan kapasitas tersebut dapat dipertimbangkan untuk dimanfaatkan masyarakat.

Namun, pemanfaatan air bagi masyarakat belum otomatis dilakukan. BP Batam akan melihat sejumlah kondisi, termasuk kapasitas produksi, kualitas air yang dihasilkan, serta kesiapan jaringan distribusi. Artinya, penyaluran ke masyarakat bergantung pada kemampuan fasilitas dan dukungan infrastruktur yang tersedia.

Amsakar menyebut pendekatan tersebut sebagai upaya mencari sumber air baru di tengah meningkatnya kebutuhan Batam sebagai kawasan investasi sekaligus wilayah perkotaan. Pemerintah tidak hanya mempertimbangkan kebutuhan industri, tetapi juga peluang agar investasi memberikan manfaat yang lebih luas.

Mendukung ekonomi digital Batam

Keberadaan pusat data dipandang sebagai salah satu sektor strategis untuk memperkuat struktur ekonomi digital Batam pada masa depan. Pengembangan industri tersebut juga disebut dapat mendorong pertumbuhan sektor konstruksi, tenaga kerja profesional, dan berbagai sektor pendukung lainnya.

Melalui kewajiban pembangunan SWRO, BP Batam berupaya memastikan ekspansi pusat data tidak mengurangi kapasitas produksi waduk untuk masyarakat. Kebijakan itu sekaligus membuka kemungkinan terbentuknya sumber pasokan air tambahan apabila kapasitas pengolahan dan jaringan distribusinya memenuhi persyaratan.

Sumber: ANTARA News – Bisnis

Home Trending Kontak
Exit mobile version