Erick Thohir Minta BUMN Segera Antisipasi Konsekuensi Menguatkan Dolar

0
11
Erick Thohir Minta BUMN Segera Antisipasi Konsekuensi Menguatkan Dolar

INFOJAWATIMUR.com – Jakarta – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir merespons mengenai penguatan dolar Amerika Serikat. Ia mengatakan BUMN perlu segera mengantisipasi dampak penguatan dolar, khususnya bagi BUMN yang digunakan terdampak pada materi baku impor serta mempunyai porsi utang luar negeri pada dolar Negeri Paman Sam yang dimaksud besar. 

“BUMN seperti Pertamina, PLN, BUMN Farmasi, MIND ID, agar melakukan pembelian dollar dengan tepat guna, bijaksana dan juga sesuai prioritas  dalam memenuhi kebutuhannya,” kata ia pada keterangan tercatat pada Jumat, 19 April 2024. 

Seperti diketahui, Erick sempat menginstruksikan BUMN yang dimaksud memborong dolar di area sedang situasi ini. Kini ia menyatakan BUMN perlu mengoptimalkan pembelian dollar, artinya adalah terukur lalu sesuai dengan kebutuhan. 

Ia menegaskan jangan sampai BUMN membeli dolar secara berlebihan. Menurut dia, seluruh elemen harus bijaksana di menyikapi kenaikan dollar pada waktu ini. Langkah ini juga untuk mengantisipasi dampak lanjutan dari gejolak geopolitik lalu kegiatan ekonomi global. 

Erick mengaku setuju dengan sikap Menteri Koordinator Sektor Perekonomian Airlangga Hartarto yang menyatakan pemerintah telah lama memiliki instrumen di bentuk devisa hasil ekspor yang dimaksud ingin ditempatkan di tempat pada negeri. Selain itu, pemerintah menginginkan impor konsumtif dapat ditahan dulu di situasi pada waktu ini.

“Untuk itu pengendalian belanja kemudian impor BUMN harus dengan prioritas serta sesuai dengan permintaan yang mana paling mendesak,” kata Erick. 

Terutama, ujar Erick, untuk BUMN yang mana mempunyai eksposur import dan juga miliki hutang pada denominasi dolar AS. Dia terhadap para direksi BUMN untuk tak membeli dollar secara berlebihan, lalu menumpuk.

Ia menjelaskan tingkat pemuaian dalam Amerika yang tersebut sulit turun salah satunya dipicu oleh kenaikan nilai energi. Situasi konflik ketika ini menghasilkan harga jual energi secara global pun akan sulit turun. Akibatnya, bank sentral di dalam seluruh dunia akan merespon dengan menunda kemungkinan pemangkasan suku bunga acuan.

Walhasil, terjadi capital outflows dari negara berprogres juga menyebabkan kenaikan imbal hasil obligasi, kenaikan suku bunga pangsa dana (funding market) lalu akhirnya kredit. Adapun pada waktu ini imbal hasil obligasi negara telah pada 6,98 persen.

: Rupiah Loyo pada Penutupan Perdagangan Akhir Pekan, Rupiah 16.260 per USD

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here