INDOCERTI dan Polres Probolinggo Kota Perkuat Keamanan Pangan SPPG melalui HACCP dan ISO

Sertifikatin 1

INFOJAWATIMUR.COM -– Upaya memperkuat keamanan pangan pada penyelenggaraan layanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terus mendapat perhatian. Tim Auditor INDOCERTI melakukan kunjungan dan diskusi bersama jajaran Polres Probolinggo Kota, Sabtu, 22 Agustus 2026, dengan fokus pembahasan pada penerapan keamanan pangan, Critical Point dalam Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP), serta penguatan sistem manajemen di lingkungan dapur SPPG.

Kegiatan yang berlangsung di Kantor Polres Probolinggo Kota tersebut menjadi ruang diskusi mengenai pentingnya membangun sistem pengelolaan pangan yang konsisten. Tidak hanya berorientasi pada hasil akhir makanan yang disajikan, keamanan pangan perlu dijaga sejak bahan baku diterima, disimpan, dipersiapkan, diolah, dikemas hingga didistribusikan kepada penerima manfaat.

Tim auditor INDOCERTI yang hadir di Kota Probolinggo terdiri atas Ari Prabowo selaku Lead Auditor, Mario Sultan, dan Ayu. Ketiganya melakukan rangkaian kegiatan audit sekaligus memberikan pemahaman mengenai sejumlah titik yang membutuhkan perhatian dalam operasional 4 SPPG.

Waka Polres Apresiasi Kehadiran Auditor INDOCERTI

Dalam pertemuan tersebut, Kompol. Wiwin Rusli, SH., MH., Wakapolres Probolinggo Kota menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada tim Auditor INDOCERTI yang telah memberikan pelayanan audit untuk kebutuhan SPPG di wilayah Kota Probolinggo.

Menurutnya, proses audit menjadi bagian penting untuk memastikan tata kelola pelayanan pangan terus diperbaiki dan dilaksanakan secara konsisten sesuai standar yang diterapkan.

Wakapolres juga mengapresiasi pelayanan tim INDOCERTI dalam memenuhi kebutuhan audit HACCP, ISO 22000, serta ISO 45001 pada 4 SPPG di Kota Probolinggo. Kehadiran auditor di lapangan diharapkan tidak sekadar menjadi bagian dari pemenuhan administrasi, tetapi juga memberikan nilai tambah berupa peningkatan pemahaman seluruh personel yang terlibat dalam operasional SPPG.

Pembahasan berlangsung secara terbuka dengan menempatkan aspek keamanan pangan sebagai salah satu perhatian utama. Hal tersebut dinilai penting mengingat pelayanan SPPG berkaitan langsung dengan proses pengolahan dan penyediaan makanan dalam jumlah besar sehingga membutuhkan pengendalian yang terstruktur.

Critical Point HACCP Jadi Perhatian

Salah satu materi utama dalam diskusi adalah pemahaman mengenai critical point atau titik-titik kritis dalam sistem HACCP.

HACCP pada prinsipnya menggunakan pendekatan sistematis untuk mengidentifikasi potensi bahaya yang berkaitan dengan keamanan pangan sekaligus menentukan langkah pengendalian yang diperlukan. Potensi bahaya tersebut dapat muncul pada berbagai tahapan proses, mulai dari penerimaan bahan hingga makanan didistribusikan.

Karena itu, dapur SPPG perlu memperhatikan setiap alur kerja secara menyeluruh. Pengawasan tidak cukup hanya dilakukan ketika makanan telah selesai dimasak.

Kualitas bahan baku dan pemasok, kondisi penerimaan bahan makanan, penyimpanan bahan mentah, pemisahan bahan, kebersihan peralatan, kebersihan personel, proses pengolahan, pengendalian suhu, pencegahan kontaminasi silang, hingga proses distribusi merupakan bagian dari ekosistem keamanan pangan yang perlu mendapatkan perhatian.

Kesalahan pada satu tahapan dapat memengaruhi tahapan berikutnya. Inilah yang membuat disiplin terhadap prosedur dan kebiasaan kerja menjadi bagian penting dalam upaya menjaga mutu dan keamanan pangan.

Ari Prabowo: Keamanan Pangan Harus Menjadi Kebiasaan Bersama

Lead Auditor INDOCERTI Ari Prabowo,ST.,MM. menekankan bahwa penerapan keamanan pangan tidak boleh hanya dibebankan kepada Kepala SPPG. Seluruh orang yang berada dalam ekosistem pelayanan memiliki peran sesuai tugas dan aktivitasnya masing-masing.

Menurut Ari, membangun kebiasaan yang baik menjadi salah satu fondasi penting dalam menciptakan lingkungan pelayanan SPPG yang aman dan terkendali.

“Kebiasaan yang baik dalam lingkup ekosistem pelayanan SPPG mengambil peran penting. Hal ini perlu dilakukan oleh seluruh relawan yang terlibat, tidak hanya menjadi tanggung jawab Kepala SPPG,” ujar Ari Prabowo.

Ia menjelaskan, sistem yang baik harus diterjemahkan menjadi perilaku kerja sehari-hari. Standar dan prosedur yang telah disusun tidak akan memberikan hasil maksimal apabila tidak dilaksanakan secara konsisten oleh orang-orang yang bekerja di dalamnya.

Hal sederhana seperti mencuci tangan sesuai prosedur, menggunakan perlengkapan kerja dengan benar, menjaga kebersihan area pengolahan, memisahkan bahan mentah dan makanan siap konsumsi, membersihkan peralatan setelah digunakan serta menjaga kondisi penyimpanan merupakan bagian dari budaya keamanan pangan.

Karena itu, perubahan perilaku menjadi faktor yang tidak dapat dipisahkan dari penerapan sistem keamanan pangan.

Bukan Sekadar Dokumen Sertifikasi

Dalam diskusi tersebut juga ditekankan bahwa implementasi HACCP maupun sistem manajemen berbasis ISO semestinya tidak berhenti pada keberadaan dokumen dan sertifikat.

Dokumentasi tetap dibutuhkan untuk membantu memastikan proses dapat ditelusuri, dievaluasi dan diperbaiki. Namun, efektivitas penerapan sistem pada akhirnya dapat dilihat dari konsistensi pelaksanaan di lapangan.

Audit menjadi salah satu instrumen untuk melihat kesesuaian antara prosedur yang telah ditetapkan dengan kondisi aktual. Melalui audit, potensi ketidaksesuaian maupun ruang perbaikan dapat diketahui sehingga pengelola memiliki dasar untuk melakukan tindakan korektif dan peningkatan berkelanjutan.

Dalam konteks tersebut, ISO 22000 memberikan kerangka sistem manajemen keamanan pangan, sedangkan HACCP berperan penting dalam pendekatan identifikasi, evaluasi dan pengendalian bahaya keamanan pangan.

Sementara itu, ISO 45001 berfokus pada sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja. Aspek tersebut relevan dalam operasional dapur karena aktivitas pengolahan makanan juga memiliki berbagai risiko kerja yang perlu dikelola, mulai dari penggunaan peralatan, permukaan panas, benda tajam hingga aktivitas operasional lainnya.

Dari Bahan Baku hingga Makanan Didistribusikan

Tim auditor juga memberikan perhatian pada pentingnya memahami bahwa keamanan pangan merupakan suatu rantai proses.

Pengendalian dimulai sejak bahan pangan masuk ke lingkungan SPPG. Bahan yang diterima perlu diperhatikan kondisi fisiknya, kesesuaiannya dengan spesifikasi serta cara penyimpanannya.

Pada tahapan persiapan dan pengolahan, perhatian diarahkan pada kebersihan personel dan peralatan serta pencegahan terjadinya kontaminasi silang. Bahan mentah dan produk yang telah siap dikonsumsi harus ditangani dengan prosedur yang tepat.

Demikian pula pada tahapan setelah makanan selesai diolah. Penanganan, pengemasan dan distribusi perlu dilakukan dengan memperhatikan faktor yang dapat memengaruhi keamanan makanan hingga sampai kepada penerima manfaat.

Dengan demikian, pengawasan keamanan pangan tidak dapat hanya mengandalkan satu orang ataupun satu tahapan pemeriksaan.

Relawan Menjadi Bagian Penting Ekosistem SPPG

Ari Prabowo menambahkan bahwa keterlibatan relawan menjadi sangat penting karena mereka berinteraksi langsung dengan berbagai aktivitas operasional sehari-hari.

Setiap personel perlu memahami alasan di balik prosedur yang diterapkan. Pemahaman tersebut penting agar kepatuhan tidak muncul semata-mata ketika ada pemeriksaan atau audit.

Ketika keamanan pangan telah menjadi kebiasaan, setiap orang akan memiliki kesadaran untuk menjaga area kerjanya, menggunakan peralatan secara tepat, melaporkan kondisi yang berpotensi menimbulkan risiko serta melakukan tindakan pencegahan sebelum permasalahan terjadi.

Pendekatan tersebut sekaligus mendorong terciptanya budaya perbaikan berkelanjutan di lingkungan SPPG.

Audit Diharapkan Memberikan Dampak Berkelanjutan

Kehadiran Ari Prabowo, Mario Sultan dan Ayu sebagai tim Auditor INDOCERTI di Kota Probolinggo diharapkan memberikan dampak lebih luas daripada proses penilaian kesesuaian.

Diskusi bersama jajaran Polres Probolinggo Kota menjadi kesempatan untuk menyamakan pemahaman bahwa keamanan pangan merupakan tanggung jawab bersama dalam rantai pelayanan SPPG.

Hasil audit juga diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi masing-masing SPPG untuk melihat bagian yang sudah berjalan dengan baik sekaligus mengidentifikasi area yang masih membutuhkan peningkatan.

Perbaikan tersebut perlu dilakukan secara konsisten karena kondisi operasional dapat berubah. Perubahan personel, pemasok, bahan baku, peralatan maupun pola kerja dapat menghadirkan risiko baru yang perlu kembali diidentifikasi dan dikendalikan.

Bangun Budaya Aman dari Dapur

Pertemuan tim Auditor INDOCERTI dengan Wakapolres Probolinggo Kota pada 22 Agustus 2026 tersebut pada akhirnya membawa satu pesan penting: keamanan pangan harus tumbuh menjadi budaya kerja.

Standar, prosedur, audit dan sertifikasi menjadi instrumen untuk membangun sistem. Namun, keberhasilan penerapannya sangat bergantung pada kedisiplinan manusia yang menjalankan sistem tersebut setiap hari.

Mulai dari Kepala SPPG, relawan, personel pengolah makanan hingga pihak-pihak lain yang terlibat dalam rantai pelayanan perlu memiliki pemahaman yang sama mengenai pentingnya mencegah risiko sebelum berdampak terhadap produk pangan.

Dengan kolaborasi, evaluasi serta penerapan prosedur secara konsisten, SPPG di Kota Probolinggo diharapkan mampu memperkuat tata kelola keamanan pangan sekaligus menciptakan lingkungan kerja yang semakin aman, tertib dan berorientasi pada mutu pelayanan.

Kunjungan tim Auditor INDOCERTI yang terdiri dari Ari Prabowo, Mario Sultan dan Ayu sekaligus menegaskan pentingnya menjadikan proses audit sebagai momentum pembelajaran dan perbaikan berkelanjutan. Bukan sekadar untuk memenuhi sebuah standar, tetapi untuk memastikan setiap makanan yang diproses melalui ekosistem SPPG ditangani dengan prinsip kehati-hatian, keamanan dan tanggung jawab.

Home Trending Kontak