Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan membidik pemanfaatan teknologi biometrik untuk meningkatkan kualitas pelayanan penumpang di bandar udara. Teknologi tersebut diharapkan membuat proses perjalanan lebih mudah, cepat, dan nyaman, dengan tetap mempertahankan standar keamanan penerbangan serta perlindungan data pribadi.
Rencana itu disampaikan Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Achmad Setiyo Prabowo dalam keterangannya yang diterima di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Rabu. Ia menekankan bahwa penerapan konsep layanan yang lebih lancar atau Seamless Travel Journey tidak boleh dipahami sebagai pengurangan aspek keamanan.
Biometrik untuk perjalanan yang lebih terintegrasi
Melalui Seamless Travel Journey, Kemenhub ingin proses perjalanan penumpang di bandar udara berlangsung lebih sederhana dan terhubung. Teknologi biometrik, termasuk pengenalan wajah, dipandang dapat digunakan pada sejumlah tahapan pelayanan penumpang.
Pemanfaatan sistem tersebut diarahkan untuk mengurangi proses yang berulang. Dengan demikian, penumpang dapat memperoleh layanan yang lebih efisien tanpa harus berulang kali menjalani tahapan serupa selama berada di lingkungan bandar udara.
Achmad menyatakan teknologi harus memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat. Namun, kemudahan itu tetap harus berjalan bersamaan dengan pemenuhan seluruh ketentuan keamanan dan perlindungan data yang berlaku.
“Seamless bukan berarti mengurangi keamanan,” ujar Achmad. Menurut dia, teknologi perlu dimanfaatkan untuk menghadirkan pelayanan yang lebih mudah dan efisien, tetapi standar keamanan penerbangan dan perlindungan data pribadi masyarakat tetap menjadi bagian penting.
Tata kelola dan perlindungan data menjadi perhatian
Kemenhub menilai penerapan biometrik tidak cukup hanya dengan menyediakan perangkat atau membangun sistem teknologi. Pelaksanaannya juga memerlukan tata kelola yang baik, keamanan informasi, perlindungan data pribadi, serta pembagian tanggung jawab yang jelas di antara pihak-pihak terkait.
Pendekatan tersebut diperlukan agar pemanfaatan data biometrik dalam layanan penumpang memiliki dasar pengelolaan yang jelas. Aspek keamanan dan ketentuan yang berlaku juga harus dipenuhi dalam setiap tahap penerapan teknologi.
Achmad menegaskan penumpang diharapkan tidak lagi menghadapi proses yang berulang, tetapi kemudahan itu tidak boleh mengesampingkan keamanan maupun perlindungan data. Dengan kata lain, peningkatan efisiensi layanan harus berjalan seiring dengan pengendalian risiko dan kepatuhan terhadap aturan.
Kolaborasi antarpenyelenggara layanan
Kepala Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah I Kelas Utama Putu Eka Cahyadhi mengatakan peningkatan pelayanan penumpang memerlukan kerja sama berbagai pihak. Hal itu karena perjalanan penumpang di bandar udara melibatkan sejumlah instansi dan penyelenggara layanan.
Menurut Putu, Seamless Travel Journey tidak semata-mata berkaitan dengan teknologi biometrik. Konsep tersebut juga mencakup upaya membuat seluruh layanan di bandar udara berjalan secara lebih terpadu.
Ia menilai kolaborasi diperlukan agar teknologi yang diterapkan benar-benar memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi masyarakat. Karena itu, keberhasilan penerapan biometrik tidak hanya bergantung pada sistem yang digunakan, tetapi juga pada keterhubungan layanan dan koordinasi antar pihak yang terlibat.
Kemenhub belum menyampaikan rincian mengenai waktu penerapan, bandara yang menjadi lokasi penggunaan, maupun bentuk sistem biometrik yang akan diprioritaskan. Namun, arah kebijakan yang disampaikan menempatkan kemudahan perjalanan, keamanan penerbangan, perlindungan data pribadi, dan koordinasi antarpenyelenggara sebagai unsur utama dalam pengembangan layanan penumpang bandara.
Sumber: ANTARA News – Bisnis
