Menyingkap Kabut Cikasur: Jejak Landasan Udara Kuno di Jantung Pegunungan Argopuro

INFOJAWATIMUR.COM – Di tengah liarnya bentang alam Pegunungan Argopuro yang dikenal memiliki jalur pendakian terpanjang di Pulau Jawa terdapat sebuah ruang di mana waktu seolah membeku. Jauh dari riuhnya peradaban modern, bersembunyi sebuah sabana mahaluas di ketinggian 2.200 meter di atas permukaan laut (mdpl).
​Namanya Cikasur. Bagi para pendaki yang pernah menjejakkan kaki di sana, kawasan ini lebih dari sekadar padang rumput; ia adalah “Pelataran Sang Hyang”, sebuah nirwana sunyi yang menyimpan kepingan sejarah tak biasa di atas awan.
​Pesona Magis di “Pelataran Sang Hyang”


​Sekilas pandang, Cikasur menawarkan romansa alam pegunungan yang sempurna. Bayangkan sejauh mata memandang, Anda disambut oleh hamparan padang rumput hijau yang menari lembut tertiup angin gunung.
​Pemandangan ini mencapai puncak keindahannya di pagi hari. Kabut putih yang tebal perlahan turun dari puncak-puncak bukit, menyelimuti sabana dengan embun yang menetes dari ujung-ujung ilalang. Ketenangan yang ditawarkan tempat ini begitu absolut. Tidak ada bising mesin, yang ada hanyalah harmoni suara angin yang bergesekan dengan dahan pepohonan serta kicauan satwa liar yang menyambut pagi.
​Namun, daya tarik utama Cikasur bukan sekadar pada visualnya yang memanjakan mata. Di balik keindahan pastoral tersebut, Cikasur menyembunyikan sebuah narasi masa lalu yang membuatnya berdiri unik dibandingkan sabana-sabana lain di pegunungan Nusantara.


​Ambisi Kolonial di Atas Awan
​”Mendaratkan pesawat di tengah belantara gunung adalah sebuah ambisi besar. Cikasur adalah bukti bahwa manusia pernah mencoba menaklukkan alam dengan teknologi di ketinggian ekstrem.”
​Jika Anda mengamati lebih saksama di antara padang ilalang yang tinggi, akan terlihat sisa-sisa fondasi bangunan dan tiang-tiang besi yang kini mulai lapuk dan berkarat. Ini bukanlah puing peninggalan kerajaan kuno, melainkan jejak dari era kolonial Belanda.
​Pada masa penjajahan, Pemerintah Hindia Belanda memiliki proyek rahasia: membangun sebuah landasan udara (airstrip) darurat di lanskap pegunungan.
​Pemilihan Cikasur bukanlah tanpa alasan. Areanya yang datar, luas, dan tersembunyi di balik rapatnya hutan Argopuro menjadikannya lokasi strategis untuk pendaratan pesawat kecil maupun kepentingan militer pada masanya. Namun, roda sejarah berputar. Entah karena perubahan situasi politik atau sulitnya pemeliharaan di tengah ganasnya alam, proyek ini perlahan ditinggalkan sebelum benar-benar mencapai potensi maksimalnya.


Ketika Alam Kembali Mengambil Alih
​Seiring berjalannya waktu, Cikasur mengalami transformasi yang menakjubkan. Dari sebuah fasilitas infrastruktur buatan manusia yang kaku, kawasan ini perlahan “ditelan” kembali oleh kekuatan alam.
​Kini, apa yang tersisa dari landasan udara tersebut hanyalah:
​Fondasi Terbengkalai: Sisa-sisa beton dan tiang pancang yang kini diselimuti lumut dan tanaman rambat.
​Area Terbuka Hijau: Landasan pacu yang dulunya dipersiapkan untuk roda pesawat kini menjadi karpet rumput alami yang luas.
​Habitat Satwa Flora & Fauna: Alam kembali mengklaim wilayahnya. Kawanan burung, babi hutan, dan satwa endemik lainnya menjadikan sisa-sisa peradaban ini sebagai bagian dari ekosistem mereka.
​Perpaduan antara puing sejarah dan liarnya alam justru menciptakan estetika baru. Cikasur menjelma menjadi monumen hidup yang mengingatkan kita bahwa pada akhirnya, alam akan selalu menang dan mengambil kembali apa yang menjadi miliknya.


​Oase Spiritual bagi Para Penjelajah
​Bagi para pendaki yang harus menempuh perjalanan berhari-hari melintasi ganasnya hutan Argopuro, tiba di Cikasur adalah sebuah anugerah. Tempat ini berfungsi sebagai oase, titik kumpul, dan area berkemah yang paling dinantikan.
​Namun, melintasi Cikasur bukan sekadar perjalanan fisik yang menguras keringat. Ada pengalaman emosional dan spiritual yang ditawarkan oleh sabana ini:
​Kesadaran akan Kedudukan Manusia: Berdiri di tengah padang rumput mahaluas, dikelilingi oleh benteng pegunungan yang diam, memunculkan rasa “kecil” dalam diri setiap manusia.
​Refleksi Waktu: Suasana sunyi seolah mengajak pendaki untuk menghentikan langkah sejenak, duduk, dan merenungkan perpaduan antara ambisi masa lalu (sejarah) dan realitas masa kini (alam).

Need Help? Chat with us