Bisnis  

Pemkab Lebak Optimistis KNMP Menggerakkan Ekonomi Pesisir

Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih 2026 tersebar di lima desa dan mencakup fasilitas rantai dingin, TPI, serta SPBN.

Sertifikatin 1

Pemerintah Kabupaten Lebak, Banten, optimistis program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) dapat menjadi penggerak ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat ekosistem nelayan melalui integrasi koperasi, pasar, dan berbagai fasilitas pendukung perikanan.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lebak Winda Triana mengatakan KNMP merupakan program strategis nasional yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Menurut dia, program itu dibutuhkan karena masyarakat pesisir selatan Lebak masih menghadapi persoalan kemiskinan. Kondisi tersebut semakin berat ketika cuaca buruk membuat nelayan tidak dapat melaut.

Infrastruktur untuk memperkuat kegiatan nelayan

Winda menjelaskan, KNMP tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga dirancang untuk memperkuat aktivitas ekonomi nelayan melalui tata kelola berbasis koperasi dan pasar. Salah satu fasilitas yang disiapkan adalah rantai dingin atau cold storage untuk menyimpan ikan hasil tangkapan.

Selain cold storage, infrastruktur KNMP mencakup Tempat Pelelangan Ikan (TPI), Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN), sarana penangkapan ikan, serta fasilitas pendukung lainnya. Pembangunan KNMP di Kabupaten Lebak pada 2026 tersebar di Desa Muara, Bayah Barat, Darmasari, Sawarna, dan Cireunde.

Winda menilai keberadaan fasilitas tersebut dapat membantu nelayan dan masyarakat pesisir mengelola hasil tangkapan secara lebih baik. Dengan dukungan penyimpanan, pelelangan, bahan bakar, dan sarana penangkapan, kegiatan ekonomi di kawasan pesisir diharapkan tidak berhenti pada penjualan ikan segar.

Mendorong pengolahan hasil tangkapan

Program KNMP juga diarahkan untuk mendorong pengembangan produk olahan dan sentra kuliner berbahan dasar ikan. Winda menyebut sejumlah produk telah tumbuh di pesisir selatan Lebak, antara lain kerupuk ikan, bakso ikan, ikan panggang, soto ikan, dan abon ikan.

Salah satu produk yang disebut adalah abon ikan “Bu Bedah” dari Binuangeun, Kabupaten Lebak. Produk tersebut telah menembus pasar domestik hingga mancanegara. Winda menyatakan perputaran bisnis dari hasil tangkapan ikan dapat mencapai miliaran rupiah per tahun, meski tidak merinci nilai atau cakupan perputaran tersebut.

Menurut dia, KNMP diharapkan menjadi model bisnis perikanan modern yang tangguh. Model itu mencakup pengelolaan pascapanen secara profesional, kemandirian, dan penguatan kelembagaan lokal. Program tersebut juga diintegrasikan dengan ketahanan pangan, pemerataan ekonomi, dan pengentasan kemiskinan.

Permintaan abon ikan terus meningkat

Ketua Kelompok Usaha Bersama (Kube) Karya Mandiri Kecamatan Wanasalam, Bedah, mengatakan produksi abon ikan tuna dan ikan marlin dari hasil tangkapan pesisir selatan Lebak telah dipasarkan ke dalam negeri dan luar negeri melalui perusahaan dari Jakarta.

Bedah menyebut permintaan terhadap produk tersebut cukup tinggi. Abon ikan itu diklaim dapat bertahan hingga delapan bulan tanpa bahan pengawet, serta memiliki rasa renyah dan gurih dengan kandungan protein yang cukup tinggi.

Kapasitas pasokan abon ikan dari kelompok usaha tersebut mencapai dua ton per bulan. Produk itu dijual dengan harga Rp150.000 per kilogram. Data tersebut menunjukkan adanya peluang pengembangan nilai tambah hasil tangkapan melalui pengolahan, selain pemasaran ikan dalam bentuk mentah.

Pemkab Lebak meyakini integrasi fasilitas perikanan, koperasi, pasar, dan usaha pengolahan dapat memperkuat ekonomi nelayan serta masyarakat pesisir. Dalam penjelasannya, Winda juga mengaitkan konsep Kampung Nelayan dengan target penurunan angka kemiskinan nasional menjadi 4 persen hingga 4,5 persen pada 2029.

Sumber: ANTARA News – Bisnis

Home Trending Kontak