Perum Jasa Tirta II (PJT II) menyatakan pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung berkapasitas 100 megawatt (MW) di Waduk Jatigede, Sumedang, Jawa Barat, segera dimulai. Sementara itu, rencana pembangunan PLTS terapung 80 MW di Waduk Jatiluhur, Purwakarta, masih berada pada tahap studi kelayakan.
Direktur Utama PJT II Imam Santoso menyampaikan perkembangan tersebut setelah menghadiri kegiatan bersama Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) di Purwakarta, Jawa Barat, Sabtu. Ia menjelaskan bahwa proyek Jatigede dan Jatiluhur merupakan bagian dari rencana perusahaan mengembangkan energi terbarukan dengan memanfaatkan kawasan waduk.
Proyek Jatigede segera masuk tahap pengembangan
Menurut Imam, proyek PLTS terapung di Jatigede memiliki kapasitas rencana 100 MW dan akan segera dimulai. Namun, PJT II belum menyampaikan jadwal pembangunan secara terperinci maupun target kapan pembangkit tersebut mulai beroperasi.
Berbeda dengan Jatigede, proyek PLTS terapung di Jatiluhur dengan kapasitas 80 MW masih menjalani feasibility study atau studi kelayakan. Perbedaan tahapan ini menunjukkan bahwa kedua proyek belum berada pada tingkat persiapan yang sama.
PJT II juga mengingatkan bahwa kapasitas proyek yang disebutkan untuk Jatigede dan Jatiluhur merupakan rencana pengembangan, bukan kapasitas pembangkit yang telah terpasang. Hingga materi ini disampaikan, belum ada keterangan bahwa kedua PLTS tersebut sudah beroperasi.
Potensi PLTS terapung mencapai 2,8 GWp
Selain dua proyek tersebut, PJT II mengidentifikasi potensi pengembangan PLTS terapung hingga 2,8 gigawatt peak (GWp) di sejumlah waduk yang berada dalam wilayah kerjanya. Imam menegaskan angka itu merupakan potensi keseluruhan yang masih memerlukan perencanaan lebih lanjut.
Dengan demikian, angka 2,8 GWp tidak dapat dipahami sebagai kapasitas pembangkit yang sudah dibangun atau sedang beroperasi. Tahap persiapan masing-masing lokasi juga berbeda, sehingga realisasi kapasitas tersebut masih bergantung pada proses perencanaan dan pengembangan berikutnya.
Dalam paparan perusahaan, lima lokasi lain dijadwalkan mulai dijajaki untuk pengembangan PLTS terapung pada 2027. Kelima lokasi itu adalah Waduk Batutegi, Sindangheula, Karian, Cipanas, dan Kuningan.
PJT II juga memetakan potensi pembangkit air
Jika digabungkan dengan proyek Jatigede dan Jatiluhur, terdapat tujuh lokasi yang masuk dalam rencana dan identifikasi potensi pengembangan PLTS terapung PJT II. Ketujuh lokasi tersebut memiliki tahapan persiapan yang belum seragam, mulai dari proyek yang segera dimulai hingga lokasi yang baru akan dijajaki.
Pengembangan energi perusahaan tidak hanya mencakup tenaga surya. PJT II juga mengidentifikasi potensi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dengan sistem penyimpanan energi melalui pemompaan air atau pumped storage sebesar 760 MW.
Saat ini, PJT II mengelola PLTA Ir H Djuanda di kawasan Waduk Jatiluhur. Pembangkit tersebut memiliki kapasitas terpasang 187,5 MW, dengan listrik yang disalurkan kepada PLN dan sejumlah industri.
Pemanfaatan ruang genangan waduk untuk PLTS terapung menjadi salah satu upaya PJT II memperluas penggunaan infrastruktur sumber daya air bagi pembangkitan energi terbarukan. Kegiatan tersebut diatur dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 7 Tahun 2023, yang mengubah ketentuan sebelumnya mengenai bendungan.
Rencana PJT II itu berlangsung di tengah program pemerintah yang diluncurkan pada 25 Agustus 2026 untuk mengembangkan PLTS berkapasitas 100 GWp. Program tersebut disebut sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian dan ketahanan energi nasional.
Sumber: ANTARA News – Bisnis
