Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah pada pembukaan perdagangan Kamis. Rupiah turun 28 poin atau 0,16 persen menjadi Rp17.915 per dolar AS, dari penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.866 per dolar AS.
Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan tekanan terhadap rupiah berkaitan dengan meningkatnya kekhawatiran geopolitik setelah muncul laporan mengenai ancaman serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran.
Menurut Lukman, penguatan dolar AS tercermin dari kenaikan indeks DXY. Pada saat yang sama, imbal hasil surat utang pemerintah AS atau UST serta harga minyak mentah dunia juga kembali meningkat. Pergerakan sejumlah indikator tersebut ikut memberikan tekanan terhadap mata uang rupiah.
“Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS di tengah DXY, yield UST dan harga minyak mentah dunia yang kembali naik,” ujar Lukman kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Laporan opsi serangan AS terhadap Iran
Mengutip Sputnik, sumber tersebut menyebut pemerintah Amerika Serikat dilaporkan meminta Departemen Perang menyiapkan sejumlah opsi serangan terhadap Iran menjelang pemilu paruh waktu Kongres pada November.
Laporan The Atlantic, yang mengutip dua pejabat pemerintahan, menyatakan Komando Pusat AS atau CENTCOM sedang menyusun rencana terkait kemungkinan serangan tersebut. Namun, belum ada keputusan final mengenai apakah serangan akan dilakukan.
Pembahasan mengenai cakupan dan tujuan serangan juga masih berlangsung. Laporan itu menyebut langkah tersebut mencerminkan keinginan Presiden AS Donald Trump untuk menurunkan harga bensin serta mencapai kemajuan dalam konflik sebelum pemilu paruh waktu.
Perkembangan geopolitik tersebut menjadi salah satu faktor yang diamati pelaku pasar karena dapat memengaruhi pergerakan dolar AS dan harga minyak mentah dunia. Namun, sumber tidak menyebutkan keputusan akhir terkait rencana serangan maupun dampak konkret yang telah terjadi terhadap pasokan minyak.
Kepercayaan konsumen ikut menekan rupiah
Selain faktor eksternal, rupiah turut terbebani oleh penurunan indeks kepercayaan konsumen Indonesia pada September 2026. Indeks tersebut turun menjadi 118,1 dari 118,5 pada bulan sebelumnya.
Lukman mengatakan penurunan data kepercayaan konsumen tersebut ikut memberikan tekanan terhadap rupiah. Pelemahan indikator itu menjadi faktor domestik yang melengkapi tekanan dari kenaikan indeks dolar, imbal hasil UST, dan harga minyak dunia.
“Data yang menunjukkan penurunan pada indeks kepercayaan konsumen Indonesia dari 118,5 ke 118,1 ikut membebani rupiah,” kata Lukman.
Pergerakan rupiah juga tercermin dalam kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Pada Kamis, JISDOR melemah ke level Rp17.890 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.880 per dolar AS.
Dengan demikian, terdapat dua perkembangan utama yang disebut memengaruhi rupiah pada perdagangan tersebut, yakni meningkatnya tekanan eksternal akibat isu geopolitik Amerika Serikat-Iran dan penurunan kepercayaan konsumen di dalam negeri. Data pembukaan pasar menunjukkan rupiah melemah, sementara JISDOR juga bergerak turun dibandingkan hari sebelumnya.
Sumber: ANTARA News – Finansial
