INFOJAWATIMUR.COM – Setiap 31 Oktober, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, memperingati hari jadinya. Penetapan tanggal tersebut merujuk pada pengangkatan Arya Wiraraja sebagai adipati pertama di wilayah Madura Timur, yang kini dikenal sebagai Kabupaten Sumenep, pada 31 Oktober 1269.
Sejarah Sumenep memiliki perjalanan panjang. Wilayah yang dahulu berada dalam sistem pemerintahan kerajaan itu telah mengalami berbagai pergantian kepemimpinan, pengaruh kolonial, hingga menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Jejak perjalanan tersebut masih dapat ditelusuri melalui kisah para tokoh, catatan sejarah, serta sejumlah peninggalan bangunan bersejarah yang hingga kini menjadi bagian dari identitas masyarakat Sumenep.
Asal-usul Nama Sumenep
Mengutip laman DPRD Kabupaten Sumenep, nama Sumenep dipercaya berasal dari bahasa Kawi atau Jawa Kuno, yakni Songenep. Nama tersebut dimaknai sebagai gabungan unsur kata yang menggambarkan suatu lembah atau cekungan yang tenang.
Dalam perkembangannya, penyebutan dan penulisan Songenep mengalami perubahan hingga dikenal dengan nama Sumenep seperti sekarang.
Nama tersebut menjadi bagian dari identitas wilayah yang memiliki akar sejarah panjang di Pulau Madura.
Arya Wiraraja dan Penetapan Hari Jadi Sumenep
Mengutip laman resmi Pemerintah Kabupaten Sumenep, Arya Wiraraja atau Banyak Wide dikenal sebagai salah satu tokoh yang pernah menjadi penasihat Raja Kertanegara dari Kerajaan Singasari.
Namanya tercatat dalam Kitab Pararaton, yang antara lain mengisahkan keterlibatannya dalam dinamika politik Kerajaan Singasari. Dalam perjalanan sejarah tersebut, Arya Wiraraja kemudian ditempatkan sebagai adipati di wilayah Madura Timur.
Pengangkatannya pada 31 Oktober 1269 menjadi dasar penetapan hari jadi Kabupaten Sumenep yang diperingati setiap tahun.
Selain dikenal sebagai pemimpin Sumenep, Arya Wiraraja juga memiliki peran dalam rangkaian peristiwa sejarah yang mengantarkan berdirinya Kerajaan Majapahit bersama Raden Wijaya.
Sosoknya menjadi salah satu tokoh penting dalam perjalanan sejarah Sumenep sekaligus sejarah kerajaan-kerajaan besar di Nusantara.
Perjalanan Kerajaan Sumenep
Setelah masa pemerintahan Arya Wiraraja, Sumenep melanjutkan perjalanan sejarahnya melalui pergantian kepemimpinan dari generasi ke generasi.
Sistem pemerintahan kerajaan turut membentuk perkembangan kehidupan sosial, budaya, dan tradisi masyarakat setempat. Sejumlah tokoh yang pernah memimpin Sumenep juga meninggalkan kisah dan jejak sejarah yang masih dikenal hingga kini.
Salah satu tokoh yang populer dalam sejarah dan tradisi masyarakat Sumenep adalah Pangeran Jokotole atau Pangeran Secodiningrat III. Namanya dikenal melalui berbagai kisah kepemimpinan serta kemampuan dalam bidang keterampilan dan pembangunan pada masa kerajaan.
Sejarah pemerintahan Sumenep juga mencatat sosok Raden Ayu Tirtonegoro yang dikenal pernah memimpin kerajaan. Ia kemudian menikah dengan Bindara Saod, yang turut menjadi bagian penting dalam perjalanan pergantian kepemimpinan kerajaan.
Pada masa berikutnya, pemerintahan dilanjutkan oleh Somala yang bergelar Panembahan Notokusumo I. Masa kepemimpinannya menjadi salah satu periode penting dalam perkembangan sejarah dan peninggalan budaya Sumenep.
Peninggalan Sejarah pada Masa Panembahan Somala
Pada masa pemerintahan Panembahan Notokusumo I atau Panembahan Somala, sejumlah bangunan penting didirikan dan menjadi bagian dari warisan sejarah Sumenep.
Salah satunya adalah Keraton Sumenep, yang hingga kini menjadi salah satu bangunan bersejarah dan bagian penting dari identitas budaya daerah tersebut.
Selain keraton, Panembahan Somala juga dikenal sebagai tokoh yang memprakarsai pembangunan Masjid Jamik Sumenep. Bangunan bersejarah lainnya adalah Asta Tinggi, kompleks pemakaman para raja dan keluarga kerajaan Sumenep.
Keberadaan bangunan-bangunan tersebut memperlihatkan jejak perkembangan pemerintahan, kehidupan keagamaan, serta tradisi masyarakat Sumenep pada masa kerajaan.
Selain peninggalan berupa bangunan, sejarah Sumenep juga mencatat tokoh yang dikenal memiliki wawasan dan kemampuan intelektual luas, yakni Sultan Abdurrahman Pakunataningrat.
Ia dikenal memiliki kemampuan dalam berbagai bahasa dan memiliki perhatian terhadap pengetahuan serta kebudayaan. Namanya menjadi salah satu bagian dari catatan sejarah perkembangan intelektual Sumenep.
Sumenep pada Masa Kolonial hingga Kemerdekaan
Seiring perubahan politik di Nusantara, Sumenep memasuki masa pemerintahan kolonial Belanda dan menjadi bagian dari wilayah Hindia Belanda. Perubahan kekuasaan tersebut turut memengaruhi sistem pemerintahan, kehidupan sosial, serta aktivitas perdagangan di Madura.
Dalam perkembangannya, sistem pemerintahan kerajaan secara bertahap mengalami perubahan. Sumenep kemudian beralih menuju sistem pemerintahan kabupaten dalam tata administrasi pemerintahan kolonial.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, Sumenep menjadi bagian dari wilayah Republik Indonesia dan selanjutnya berkembang sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur.
Sejak saat itu, kepemimpinan daerah tidak lagi berada dalam sistem pemerintahan kerajaan, melainkan dijalankan melalui sistem pemerintahan kabupaten yang dipimpin oleh seorang bupati.
Hingga kini, peringatan Hari Jadi Kabupaten Sumenep setiap 31 Oktober menjadi momentum untuk mengenang perjalanan sejarah, para tokoh pendahulu, serta warisan budaya yang membentuk identitas daerah tersebut.
















