Surabaya, INFOJAWATIMUR.COM – Bagi seorang nelayan, mesin tempel (outboard engine) adalah jantung dari setiap pelayaran. Ketika motor penggerak itu batuk atau mendadak mati di tengah laut, taruhannya bukan sekadar kehilangan pendapatan hari itu, melainkan juga keselamatan jiwa. Menyadari krusialnya alat tangkap tersebut, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) turun tangan membekali para nelayan dengan keahlian mekanik melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas).
Bertajuk “Pemberdayaan Nelayan Desa Kejawan Putih Tambak Melalui Pelatihan Perbaikan dan Perawatan Mesin Tempel Outboard”, kegiatan ini digelar di kawasan pesisir Desa Kejawan Putih Tambak, Surabaya, pada Kamis (11/6/2026) pagi.
Lewat sentuhan edukasi ini, kampus vokasi perkapalan terkemuka tersebut berupaya mengubah ketergantungan nelayan terhadap bengkel darat menjadi kemandirian di tengah lautan.
Memutus Rantai Kerugian Akibat “Mogok”
Selama ini, keterbatasan pengetahuan teknis mengenai mesin kerap menjadi momok bagi nelayan setempat. Jika mesin mengalami gangguan ringan, mereka terpaksa merogoh kocek dalam-dalam untuk biaya servis, atau yang terburuk, gagal melaut berhari-hari. Berkurangnya produktivitas dan membengkaknya biaya operasional inilah yang mendasari Tim Pengmas PPNS untuk menginisiasi pelatihan adaptif tersebut.
Tim pakar yang turun langsung ke lapangan ini terdiri dari kolaborasi dosen dan tenaga kependidikan lintas keahlian PPNS, antara lain:
- R. Dimas Endro
- Abdul Gafur
- Edi Haryono
- Lely Pramesti
- M. Faizur Rizal Ashad
- Firly Irhamni Ahsan
Sebanyak lima nelayan lokal yang sehari-hari menggantungkan hidupnya pada kapal bermesin tempel dipilih menjadi peserta utama. Jumlah yang terbatas ini sengaja dirancang agar proses transfer ilmu dan pendampingan praktik berjalan lebih intensif dan tepat sasaran.
Dari Teori hingga Bongkar Mesin secara Langsung
Pelatihan tidak berjalan searah atau sekadar pemaparan di atas kertas. Tim PPNS meramu kurikulum praktis yang mencakup pengenalan anatomi dan komponen utama mesin tempel, prosedur perawatan berkala, hingga pemeriksaan sistem krusial seperti jalur bahan bakar dan sistem pendinginan (cooling system).
Materi Inti Pelatihan:
- Teknik penggantian oli dan busi yang benar.
- Identifikasi dini (troubleshooting) kerusakan ringan saat berlayar.
- Simulasi penanganan darurat ketika mesin mati di tengah laut.
Setelah sesi teori, para nelayan langsung ditantang untuk mempraktikkan ilmu yang didapat. Mereka memegang perkakas, membuka kap mesin, dan melakukan simulasi perawatan di bawah bimbingan langsung para instruktur PPNS. Format hands-on ini membuat para peserta lebih cepat memahami langkah-langkah mekanis yang selama ini dianggap rumit.
Investasi Keterampilan untuk Masa Depan
Ketua Tim Pengmas PPNS menegaskan bahwa esensi dari kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi ini adalah dampak jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat pesisir.
“Kami ingin berbagi pengetahuan dan keterampilan yang benar-benar aplikatif. Kemampuan melakukan perawatan dan perbaikan dasar mesin tempel sangat penting untuk menjaga keandalan operasional kapal. Jika mesin prima, risiko di laut mengecil, biaya perbaikan berkurang, dan otomatis produktivitas tangkapan mereka akan meningkat,” ujarnya optimis.
Respons positif pun datang dari para peserta. Sesi diskusi berkembang menjadi ruang konsultasi interaktif, di mana para nelayan aktif mengadukan berbagai kendala teknis yang sering mereka temui di lapangan—mulai dari mesin yang sulit dinyalakan saat udara dingin hingga masalah karburator yang sering kemasukan air asin.
Melalui sinergi ini, PPNS tidak hanya memosisikan diri sebagai lembaga menara gading, melainkan mitra nyata yang membawa teknologi tepat guna ke bibir pantai. Harapannya, langkah kecil dari Kejawan Putih Tambak ini mampu menjadi pemantik bagi penguatan ekonomi biru dan kedaulatan nelayan tradisional di Indonesia.
















