Ahli Maju Bongkar Misteri Pesugihan, Benarkah Bikin Kaya?

0
15
Ahli Maju Bongkar Misteri Pesugihan, Benarkah Bikin Kaya?

INFOJAWATIMUR.com  – Menjadi sukses serta hidup berkecukupan impian setiap manusia. Individu rela banting tulang untuk meraih itu semua. Caranya juga beragam, ada yang mana kerja lembur dan juga investasi.

Namun, ada pula yang mana meraihnya dengan jalan pintas, seperti melakukan aksi kriminalitas atau kemungkinan besar melakukan hal gaib lalu mistis. Khusus yang digunakan kedua, tak sedikit manusia yang melakukan berbagai ritual persekutuan dengan setan. Sebut salah satunya pesugihan.

Pesugihan dapat diartikan sebagai upaya mendapat kekayaan dengan melakukan perjanjian dengan makhluk gaib. Cara ini tak cuma ada di dalam Indonesia, melainkan juga terjadi di tempat berbagai belahan dunia lain.

Antropolog Australia Michael Taussig pada The Devil and Commodity Fetishism in South America (1970) melakukan penelitian panjang tentang hal ini ketika mengunjungi Amerika Selatan, tepatnya di dalam Kolumbia kemudian Bolivia. Taussig mengamati fenomena pesugihan (Taussig menyebutnya sebagai persekutuan dengan setan) pada dua wilayah tersebut.

Di perkebunan Kolumbia, Taussig mendengar mitos kalau para petani melakukan hal gaib untuk meningkatkan hasil panen. Yakni dengan melakukan pesugihan lalu menjadi budak setan. Keduanya punya kontrak khusus.

Apabila petani mendapat untung maka harus dialihkan untuk kegiatan konsumerisme seperti belanja barang-barang mewah. Jika dilanggar, maka merek akan meninggal tiba-tiba.

Taussig tentu tak percaya menghadapi hal ini, tetapi sebagai antropolog ia harus menemukan jawabannya. Singkat cerita, beliau berhasil membongkar misteri pesugihan dengan memberikan perspektif berbeda.

Perlu diketahui, mayoritas para ahli mengungkap fenomena seperti ini didasarkan oleh kecemburuan. Singkatnya, para petani yang dimaksud miskin sebetulnya iri terhadap orang yang dapat harta mendadak. Jadi, dia menuduh para orang kaya baru bersekutu dengan setan. Dan ini sebetulnya logis.

Dalam tulisan berbeda berjudul “The Ghost in the Machine” (2018) di dalam Jacobin, Taussig memaparkan mitos itu muncul sebagai upaya kritik para pekerja melawan suburnya kapitalisme. Bagi mereka, kapitalisme menghasilkan orang tercerai-berai dari tanah leluhur lantaran berhasil memusnahkan praktik kegiatan ekonomi tradisional.

“Cerita pesugihan diproduksi untuk memahami keterasingan merek [..] serta sebagai tanggapan melawan gangguan sosial besar-besaran yang dimaksud ditimbulkan melawan kemunculan akumulasi modal swasta,” katanya

Lantas, pada titik inilah cerita imajinatif muncul di area warga kalau orang kaya yang disebutkan bersekutu dengan setan. Cerita itu sebetulnya mempunyai instruksi mitigasi agar para petani tidaklah menjadi kaya kemudian tetap memperlihatkan bertahan dengan sistem ekonomi tradisional.

Bisa dikatakan, balutan bahwa mereka itu akan meninggal oleh sebab itu gagal meneken kontrak dengan setan murni untuk menakut-nakuti saja. Agar dia menjauh dari kapitalisme yang dimaksud jahat.

Kapitalisme sendiri dipandang sebagai setan atau iblis akibat sama-sama menyebabkan ketakutan. Jika setan memunculkan ketakutan terhadap imajinasi manusia, maka kapitalisme menyebabkan ketakutan akan tindakan eksploitasi.

Berkat riset ini, Taussig kemudian diganjar penghargaan bergengsi seperti Berlin Prize kemudian Guggenheim Fellowship.

Dengan temuan Taussig kita mengetahui kalau narasi pesugihan atau cara lain seperti babi ngepet dan tuyul yang dimaksud lazim diproduksi dalam Indonesia adalah cerita imajinatif belaka. Dan bisa saja ditarik kesimpulan kalau kekuatan supranatural sebagai cara meraih kekayaan biasanya bertambah subur ketika kapitalisme muncul pada suatu wilayah.)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here