Drama Kolosal Retno Dumilah Jadi Jejak Budaya yang Membekas pada Suran Agung ke-123 PSHWTM

Madiun, INFOJAWATIMUR.COM –

Hampir sepekan setelah peringatan Suran Agung ke-123 Persaudaraan Setia Hati Winongo Tunas Muda (PSHWTM) Pusat Madiun, salah satu rangkaian acaranya masih menyisakan kesan mendalam di tengah masyarakat. Pementasan drama kolosal Retno Dumilah menjadi salah satu sajian budaya yang paling mendapat apresiasi dari warga dan tamu undangan dalam rangkaian Suran Agung yang digelar di Lapangan Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, pada Minggu (28/6/2026).

Mengangkat kisah kepahlawanan Retno Dumilah, pertunjukan tersebut memadukan seni tari, teater, musik, dan tata artistik yang memukau. Lebih dari sekadar hiburan, pementasan ini menghadirkan pesan tentang kepemimpinan yang berintegritas, keberanian dalam menegakkan kebenaran, semangat persaudaraan, serta pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya bangsa.

Ketua Panitia Suran Agung ke-123 PSHWTM, R. Dikka Guntur Arya Wicaksana, mengatakan pementasan tersebut memang dirancang sebagai media edukasi budaya yang mampu mendekatkan generasi muda dengan sejarah sekaligus memperkuat karakter kebangsaan.

“Pagelaran ini kami harapkan dapat menjadi sarana edukasi budaya sekaligus memperkuat identitas kebangsaan, khususnya bagi generasi penerus,” ujarnya.

Senada dengan itu, Bagian Kebudayaan PSHWTM, Iwan Budi Prasetiya, menjelaskan bahwa kisah Retno Dumilah dipilih karena mengandung nilai-nilai luhur yang tetap relevan dengan kehidupan saat ini. Menurutnya, tokoh Retno Dumilah mencerminkan sosok pemimpin yang menjunjung tinggi kebenaran, mengutamakan kepentingan rakyat, serta menggunakan kekuatan untuk melindungi masyarakat, bukan demi kepentingan kekuasaan semata.

Selain itu, kisah tersebut juga menegaskan pentingnya musyawarah, penghormatan terhadap sesama, dan penyelesaian konflik secara bijaksana sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat.

Pementasan drama kolosal itu disaksikan ribuan warga PSHWTM dan masyarakat umum yang memadati lokasi sejak pagi hingga siang hari. Pagelaran tersebut juga dihadiri Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Pelaksana Tugas (Plt.) Wali Kota Madiun F. Bagus Panuntun, Bupati Madiun Hari Wuryanto, serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), yang semakin menambah semarak rangkaian Suran Agung ke-123 PSHWTM.

Lebih dari sekadar pertunjukan seni, Retno Dumilah menjadi wujud komitmen PSHWTM Pusat Madiun dalam merawat sejarah melalui pendekatan budaya yang edukatif dan inspiratif. Pementasan ini menunjukkan bahwa nilai-nilai luhur, seperti persaudaraan, kepemimpinan yang berintegritas, gotong royong, dan musyawarah, tetap relevan untuk diwariskan kepada generasi masa kini.

Keberhasilan pementasan tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam penyelenggaraan Suran Agung ke-123 PSHWTM. Di balik kemegahan panggung yang telah usai, pesan moral yang disampaikan diharapkan terus hidup, menginspirasi masyarakat, serta memperkuat komitmen bersama dalam menjaga persatuan, melestarikan budaya, dan merawat nilai-nilai persaudaraan.

Need Help? Chat with us
Exit mobile version