Rupiah Diproyeksikan Melemah ke Kisaran Rp18.120-Rp18.180 per Dolar AS

Kenaikan indeks dolar dan imbal hasil US Treasury dinilai mencerminkan fase suku bunga tinggi lebih lama

Sertifikatin 1

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova memperkirakan nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Proyeksi tersebut disampaikan dengan mempertimbangkan kenaikan indeks dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS, di tengah sentimen pasar keuangan global dan domestik.

Rully mengatakan indeks dolar meningkat menjadi 101,89, sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah AS naik 5 basis points menjadi 4,62 persen. Perkembangan itu terjadi meskipun harga minyak mengalami penurunan.

Berdasarkan sejumlah faktor tersebut, rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp18.120 hingga Rp18.180 per dolar AS. Pernyataan itu disampaikan Rully kepada ANTARA di Jakarta pada Rabu.

Kenaikan imbal hasil obligasi AS

Menurut Rully, penguatan indeks dolar dan kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat menunjukkan pasar keuangan global memasuki kondisi suku bunga tinggi dalam periode yang lebih panjang, atau higher for longer. Situasi ini berpotensi menimbulkan efek penularan ke pasar surat utang di berbagai negara.

Dampaknya, pasar obligasi Indonesia turut menghadapi tekanan pelemahan. Kenaikan imbal hasil US Treasury menjadi salah satu perhatian utama karena memengaruhi daya tarik aset keuangan di negara berkembang, meskipun sumber tidak merinci besaran dampak langsungnya terhadap pasar domestik.

Rully menjelaskan, peningkatan imbal hasil US Treasury didorong oleh lonjakan porsi penarikan utang pemerintah Amerika Serikat yang meningkat cepat dibandingkan periode sebelumnya. Selain itu, strategi pembelian kembali obligasi atau buyback oleh pemerintah AS disebut belum berhasil menstabilkan pasar obligasi.

Ekspektasi kebijakan The Fed

Sentimen pasar juga dipengaruhi perkiraan bahwa Federal Reserve atau The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis points sebanyak dua hingga tiga kali dalam satu tahun mendatang. Ekspektasi tersebut membuat tekanan terhadap pasar keuangan global tetap menjadi perhatian.

Kenaikan suku bunga acuan di Amerika Serikat dapat memperkuat daya tarik aset berbasis dolar, sementara mata uang negara lain berpotensi menghadapi tekanan. Dalam konteks proyeksi Rully, kondisi eksternal itu menjadi salah satu dasar perkiraan pelemahan rupiah.

Risiko domestik turut diperhatikan

Selain faktor global, pelaku pasar disebut mencermati isu stabilitas politik dan tata kelola pasar modal di dalam negeri. Perhatian itu muncul setelah adanya indikasi kasus penyadapan terhadap Presiden RI Prabowo Subianto dan sejumlah pejabat negara yang diduga melibatkan mantan Kapolri, serta dinamika penilaian dari MSCI.

Rully menilai kasus penyadapan tersebut meningkatkan premi risiko terhadap seluruh aset Indonesia. Ia menyebut kenaikan risiko itu tercermin pada Credit Default Swap atau CDS yang telah berada di atas 100 basis points.

Kombinasi tekanan eksternal berupa penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil obligasi AS, serta sentimen domestik terkait risiko politik dan tata kelola pasar modal, menjadi dasar proyeksi bahwa rupiah bergerak melemah pada kisaran Rp18.120-Rp18.180 per dolar AS.

Sumber: ANTARA News – Finansial

Home Trending Kontak